Beberapa rekan teis pernah mengirimi saya sebuah cerita fiktif tentang seorang professor ateis yang didebat oleh siswanya. Ceritanya sang professor tidak percaya tuhan ada karena ia tidak terlihat. Sang anak yang cerdas mengatakan kalau sang profesor tidak punya otak, karena otak sang profesor tidak kelihatan. Versi lain yang lebih formal dari rekan teis mengatakan kalau angin tidak dapat dilihat, apakah ini berarti tuhan tidak ada? Dan yang lain mengatakan kita bukan hanya tidak dapat melihat cinta, harapan, kasih sayang atau segala jenis emosi, tetapi sains juga tidak dapat mendeteksinya, apakah ini berarti itu semua tidak ada. Bila tuhan tidak ada, berarti otak anda, angin, dan cinta juga tidak ada.”
Gagasan ini disentuh pula dalam film “Contact”. Entah Carl Sagan iseng membuat novelnya lebih netral, ataukah karena sang sutradara memberikan nilai jual dengan memasukkan argument ini ke dalam filmnya, saya tidak tahu. Mungkin rekan ateis yang pernah membaca novel aslinya bisa berkomentar. Dalam film ini, Ellie Arroway menuntut bukti adanya tuhan, dan Palmer Joss menjawab dengan bertanya kepadanya, apakah ia dapat membuktikan kalau ia mencintai ayahnya.
Bila anda tidak teliti, argument di atas kelihatan sangat meyakinkan. Tentu saja, ada hal-hal yang sesungguhnya memang ada, dan tuhan seperti itu juga. Namun argumen itu memiliki dua kelas entitas: benda yang tidak dapat dilihat, dan keadaan pikiran, dan menganggap kalau tuhan termasuk dalam salah satu kelas tersebut.
Mari pikirkan benda tak terlihat lainnya: udara, angin, magnet, radiasi, listrik tegangan rendah, gas hidrogen. ”Anda tidak dapat melihatnya kan?” Mungkin, namun kenapa menekankan tiba-tiba pada indera penglihatan manusia? Semua itu, dan semua ”benda yang tidak dapat dilihat tapi ada” yang bisa anda pikirkan, memiliki efek yang dapat diamati secara langsung. Udara, saat ia bergerak sebagai angin, membuat daun bergoyang. Magnet mempengaruhi kompas. Radiasi mempengaruhi pencacah Geiger. Listrik mempengaruhi voltmeter. Hidrogen bila ketemu dengan oksigen terbakar. Tidak seperti perbuatan tuhan, semua ini 100% terprediksi, dapat di uji dan dapat diperiksa berulang kali; tidak pernah ada kasus dimana hidrogen tidak terbakar bila ketemu dengan oksigen atau magnet tidak berpengaruh pada jarum kompas. Pada dasarnya, untuk semua ”benda yang tidak dapat dilihat tapi ada” , kita punya alat atau cara yang dapat mendeteksi keberadaannya. Jadi, bisakah anda menciptakan alat yang dapat mendeteksi adanya “medan tuhan”? Mungkin bisa – dan bila ada, ateis tidak punya lagi posisi yang kuat. Tapi hingga sekarang, alat demikian tidak ada, jadi ateis tetaplah ateis.
Kelas lain argument memuat keadaan pikiran manusia: emosi, perasaan, pikiran. Saya sangat siap mengatakan kalau harapan dan rasa kasih sayang tidak ada di bumi, katakanlah, 350 juta tahun lalu di Zaman Devon. Apakah rekan-rekan teis siap mengatakan kalau tuhan tidak ada pula di masa itu? Saya ragu. Namun bila memang, maka kita sama-sama setuju. Bagi saya tuhan tampak merupakan keadaan pikiran manusia yang sama seperti cinta, marah atau harapan: sebuah fenomena subjektif yang tertutup pada diri seseorang. Saya tidak berurusan dengan tuhan semacam itu. (Hanya saja jangan bilang kalau Dia menjawab doa anda.)
keberatan lawan yang paling mungkin dengan apa yang saya katakan di atas mungkin seperti ini, “Ya, Tuhan lebih mirip keadaan pikiran daripada benda yang tak terlihat, kecuali kalau Dia ada terlepas dari manusia, ada sebelum manusia, dan akan selalu ada biarpun manusia telah punah.” Ya, bolehlah, tapi bukankah argument demikian memusnahkan analogi antara tuhan dan pikiran manusia tadi?
Bila tuhan ada, maka dia ada dalam kelasnya sendiri terpisah dari benda yang tidak terlihat atau keadaan pikiran. Itu tuhan yang mesti teis pertahankan.
